Anggap Rumah Sendiri
1:31 PM
Katamu, di suatu malam yang acak. Menyuruhku yang orang asing ini menganggap telingamu adalah rumahku itu benar-benar absurd. Kebaikan yang mencurigakan, bagiku yang memang terbiasa mencurigai semuanya. Kebaikan yang tak berdasar, bagiku yang selalu menganalisa segala hal. Kebaikan yang entah apa tujuan di baliknya, maaf aku memang orang yang penuh ketidak percayaan terhadap dunia haha.
Ketidak percayaan yang membentengiku mendadak runtuh entah di malam yang mana. Aku masih tidak tau entah di telepon ke berapa di antara perbincangan yang penting dan juga mundane kita. Rasa curigaku berubah menjadi kekhawatiran yang lembut. Kekhawatiran terhadap dirimu di ujung sana, tentang kabarmu yang belum kudengar. Lalu berkembang menjadi bintang di dalam diriku yang bersinar dan berpejar. Nyala yang kututup-tutupi dengan susah payah itu kemudian bocor kemana-mana. Menjadi karya-karya dan doa untukmu. Tanda tanya besar masih tertanam dalam otakku, ada apa dan aku ini kenapa?
Berbagi cerita dan mimpi denganmu terasa alami, seolah mengobrol dengan kawan lama, teman lama, kenalan lama. Kekhawatiranku berubah menjadi ketakutan. Takut dengan sesuatu yang masih buram di hadapan. Takut kalau sesuatu itu hanya rumah yang kau bangun untukku tanpa berniat kau huni juga. Sesuatu tanpa nama yang malu kudefinisikan. Sesuatu ini menghantuiku, merubahku dan menyeretku ke diriku sepuluh tahun lalu saat masih polos dan apa adanya. Ekspresi dan perasaan yang kubendung karena takut kebanyakan dan merepotkan orang lain, semuanya tumpah ruah. Aku kembali menjadi diriku sebelum dipenuhi ketakutan, rasa bersalah, dan segala perasaan sedih tak berkesudahan. Diriku yang kata kawanku, ceria dan centil haha. Selamat tinggal diriku yang kesepian dan suram:)
Aku ingin seluruh duniaku tau tentangmu. Seseorang yang membuatku bertemu lagi dengan jiwa lamaku. Seseorang yang menerima sisi-sisiku yang kutolak. Seseorang yang selalu tau, kuharap, apa yang harus dilakukan. Ketakutanku berubah menjadi perasaan yang jauh lebih lembut lagi, sesuatu yang hangat dan ingin kubagi-bagi ini kini sudah punya nama. Tapi selayaknya remaja pemalu.. aku masih tidak mampu mengucap apa-apa.
Perasaan dengan nama itu sudah kusimpan baik-baik karena keambiguanmu. Tapi karena aku sudah kembali menjadi diriku lagi, dipastikan aku tidak akan tahan dengan sesuatu yang abu-abu. Dan lagi-lagi di suatu malam yang acak, kusemburkan apa yang kurasakan ke meja. "Nih, ambil. Terserah mau diapakan." pikirku haha.
Kini kita sudah punya nama yang sama. Aku harap bisa terus merawat rumah yang kamu bangun bersama. Anggap aku rumahmu, tidak perlu bayar sewa, silakan tinggal sampai kapanpun kamu mau. Aku juga akan tinggal.
0 cuaps