Kisah Tak Sampai yang Kusampaikan Lewat Surat Terbuka Ini

Aku pernah punya mimpi terbesar di hidupku. Mimpi yang lahir dari rahim sakit hati, berkat orang itu . "Buktikan, nak. Kau bisa berha...

Aku pernah punya mimpi terbesar di hidupku. Mimpi yang lahir dari rahim sakit hati, berkat orang itu.


"Buktikan, nak. Kau bisa berhasil tanpa ayahmu."

Kalimat yang turut membesarkanku, tumbuh bersama, dan ikut serta melahirkan impianku.
Tapi aku yang bahkan belum remaja kala itu hanya meyakini kesanggupanku kelak, tanpa tahu bagaimana cara memenuhinya.
Aku hanya terus berkhayal dan berkhayal. Tentang kehidupan lain. Kisah yang jauh berbeda dari milikku.
Sampai akhirnya aku pun mulai jatuh hati. Pada dunia buatanku. Yang jauh dari sengsara. Aku dapat bebas kemanapun, melakukan apapun. Di dunia-dunia itu, aku tak perlu repot memikirkan cara untuk berhasil seperti keinginan ibu.
 Itulah kali pertama aku memutuskan: ingin jadi penulis.

Dari hari ke hari berikut, dunia milikku mulai menipis. Terkikis tajamnya kenyataan. Dan aku pun berhadapan dengan realita.
Tulisanku selalu berhasil di hadapan satu juri: ibu.
Begitupun dengan guru bahasa yang menemukan kecintaanku pada tulis-menulis.
Tapi tidak di hadapan kenyataan, tulisanku selalu gagal.
Untuk kali pertama, aku tidak yakin aku bisa menulis.

Ketidakpercayaan itu mengantarkanku pada seseorang. Lelaki terpaut sembilan tahun denganku. Dia yang antusias membicarakan dunia fiktif denganku, dia pula yang paling mendukung mimpi terbesarku.
Mimpi itu pun bangkit sepenuhnya. Aku menulis tanpa ragu.
Tapi tidak berlangsung lama, satu-satunya orang selain ibu yang ada, nyata, dan mendukungku: menghilang.
Aku menutup buku. Meninggalkan kisah belum usai. Menanggalkan mimpi itu, sekali lagi. Berpindah pada dunia baru: dunia gambar.
Aku suka dunia baru ini. Lebih banyak manusia-manusia, tidak seperti saat aku menulis sendirian di kamar.
Seiring dengan hilangnya dia, aku terlupa.

Kupikir tulisan adalah hal yang dapat dipahami semua orang. Aku selalu percaya, suatu hari namaku akan terpajang di sampul buku tiap toko seantero negeri. Dan orang itu akan menemukan nama yang dia kenali, membelinya, dan membacanya. Hingga segala sesuatu yang kurasakan dapat tersampaikan.
Aku pikir, itulah saat dimana aku dapat memenuhi harapan ibu.

Tapi aku salah. Realita dan khayalanku tak pernah bisa menyambung.
Tulisanku tidak pernah bisa dimengerti, orang itu, tidak peduli bahkan bila perasaanku tersampaikan.

Bulatlah keputus-asaanku.

Aku diam. Mati. Dan menjalani hari tanpa mimpi.

Dan begitulah dua tahun lampau, sebelum akhirnya aku disadarkan, lagi.
Kali ini aku tidak ingin memberi pembuktian pada orang itu. Tapi pada orang-orang yang telah ada, nyata, dan mendukungku.

Aku akan terus menulis. Segagal apa tulisanku di hadapan kenyataan. Aku akan menulis.
Karena hanya inilah satu-satunya hal yang kubisa.

Teruntuk orang yang kumaksud, tidak peduli dengan pendapatmu, aku akan meneruskan ini. Mimpi lama yang tumbuh mengakar dalam diriku. Bersenyawa dalam hembusan napasku. Terimakasih telah mengenalkanku pada sakit hati. Aku akan tetap bersikap baik padamu, walau aku tidak ingin sekalipun. Demi rasa hormat yang selalu diajarkan ibu.

Teruntuk orang-orang yang sudah mempercayai kemampuanku, terimakasih. Tunggulah satu nama yang kalian kenali di toko seantero negeri.

Dari, FidellR

You Might Also Like

1 cuaps